Selasa, 22 Juni 2021

JURNAL KETERAMPILAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

 

PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL DIDALAM LINGKUP MASYARAKAT

Oleh :

Amanda Salsabila ( 0309192047 )

Email : Amandasalsabila123user@gmail.com

Mahasiswi  Jurusan Tadris IPS 2 Semester IV

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

 


Abstrak :

Manusia adalah makhluk sosial dan tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa berinteraksi dengan orang lain, oleh karena itu penting bagi individu untuk memiliki keterampilan sosial. Keterampilan sosial adalah kemampuan individu untuk menjalin hubungan dengan lingkungannya. Jika keterampilan sosial dapat dikembangkan dengan tepat, dapat menjadi filter bagi individu untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan individu dengan kesempatan latihan awal untuk mengembangkan keterampilan sosial mereka.

Kata Kunci : Keterampilan Sosial, Masyarakat

Abstract :

Humans are social creatures and cannot grow and develop without interacting with other people, therefore it is important for individuals to have social skills. Social skills are the ability of individuals to establish relationships with their environment. If social skills can be developed properly, it can be a filter for individuals not to do things that can harm others. Therefore, it is very important to provide individuals with early practice opportunities to develop their social skills.

Keywords: Social Skills, Society

 


Pendahuluan

            Keterampilan sosial sebagai keterampilan berkomunikasi dengan empati dan keterampilan bekerja sama. Dalam berkomunikasi bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi di dalamnya ada keinginan menimbulkan kesan baik untuk menumbuhkan keharmonisan maupun kesinambungan hubungan, serta solusi terhadap suatu permasalahan. keterampilan sosial sebagai keterampilan untuk melakukan interaksi, komunikasi dan partisipasi dalam kelompok yang ada. Keterampilan sosial perlu didasari oleh kecerdasan personal berupa kemampuan mengontrol diri, percaya diri, disiplin dan tanggungjawab. Untuk selanjutnya kemampuan tersebut dipadukan dengan kemampuan berkomunikasi secara jelas, lugas, meyakinkan, dan mampu membangkitkan inspirasi, sehingga mampu mengatasi silang pendapat dan dapat menciptakan kerjasama

Greene ( dalam Freeman, 2015) menyatakan bahwa keterampilan sosial memmerlukan beberapa keahlian berkomunikasi, mulai dari menginterpretasikan petunjuk, mengenali perilaku tertentu yang turut mempengaruhi orang  lain dan memahami suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang lain.

Keterampilan sosial adalah keterampilan untuk berinteraksi, berkomunikasi dan berpartisipasi dalam kelompok. Tim Broad-Based Education menafsirkan keterampilan sosial sebagai keterampilan berkomunikasi dengan empati dan keterampilan bekerja sama. Dalam berkomunikasi tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi di dalamnya ada keinginan yang menimbulkan kesan baik untuk menumbuhkan keharmonisan maupun kesinambungan hubungan, serta solusi terhadap suatu permasalahan. Jarolimek mengemukakan bahwa keterampilan sosial meliputi: (1) Living and working together; taking turns; respecting the rights of other; being socially sensitive (2) Learning self-control and self-direction, dan (3) Sharing ideas and experience with others. (Hidup dan bekerja sama, bergiliran, respek dan sensitif terhadap hak orang lain, belajar mengontrol diri dan tahu diri, berbagai ide dan pengalaman dengan orang lain) (Maryani, 2011: 18-19).

Maryani(2011:20) mengungkapkan keterampilan sosial dapat dikelompokkan atas empat bagian, yaitu : (1) Keterampilan dasar berinteraksi: berusaha untuk saling mengenal, ada kontak mata, berbagi informasi atau material; (2) Keterampilan komunikasi: mendengar dan berbicara secara bergiliran, melembutkan suara (tidak membentak), meyakinkan orang untuk dapat mengemukakan pendapat, mendengarkan sampai orang tersebut menyelesaikan pembicaraannya; (3) Keterampilan membangun tim/kelompok: mengakomodasi pendapat orang, bekerjasama, saling menolong, saling memperhatikan; (4) Keterampilan menyelesaikan masalah: mengendalikan diri, empati, memikirkan orang lain, taat terhadap kesepakatan, mencari jalan keluar dengan berdiskusi, respek terhadap pendapat yang berbeda.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif, yaitu jenis penelitian yang tujuannya untuk menggambarkan fenomena yang bersifat alamiah atau rekayasa manusia (Sugiyono, 2010:6).

Metode penelitian yang dipakai pada jurnal ini adalah Metode Grounded Theory Grounded theory merupakan rancangan penelitian dari sosiologi yang di dalamnya peneliti memperoleh teori umum dan abstrak dari suatu proses, aksi, atau interaksi tertentu yang berasal dari pandangan-pandangn partisipan.

Rancangan ini menggunakan berbagai tahap pengumpulan data dan penyaringan serta antar-hubungan kategori-katgori informasi yang diperoleh (Charmaz, 2006; Corbin dan Strauss, 2007 dalam dalam Creswell, 2016)

Karena pandemic COVID-19 ini yang tidak memungkinkan untuk melakukan penelitian jadi, penelitian ini dilaksanakan dirumah dengan melihat dan menganalisis bagaimana fenomena keterampilan sosial didalam masyarakat.


Pembahasan

Konsep Keterampilaan Sosial

Keterampilan sosial berasal dari kata keterampilan dan sosial. Kata keterampilan berasal dari kata “terampil” digunakan disini karena didalamnya terkandung suatu proses belajar, dari tidak terampil menjadi terampil. Kata sosial digunakan karena pelatihan ini bertujuan untuk mengajarkan satu kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Keterampilan sosial maksudnya adalah pelatihan yang bertujuan untuk mengajarkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain kepada individu-individu yang tidak terampil menjadi terampil berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Keterampilan sosial “Social Skills” merupakan bagian penting dari kemampuan hidup manusia. Tanpa memiliki keterampilan ini manusia tidak mulus dalam berinteraksi dengan orang lain, sehingga hidupnya kurang harmonis. Social skill atau keterampilan sosial memiliki penafsiran akan arti dan maknanya.

Dimensi – Dimensi Keterampilan Sosial

Menurut Goleman (1999) untuk dapat meraih puncak prestasi, keterampilan sosial atau social skills memiliki makna inti. Makna intinya adalah adanya kemampuan atau kepintaran individu berupa seni untuk menangani emosi orang lain dan menggugah respon orang lain, sehingaga terjadi hubungan sosial yang ancar. Hubungan sosial yang lancar terjadi dapat ditinjau dari dimensi-dimensi dari keterampilan sosial yang menjadi indikatornya yaitu :

1) Dimensi Pengaruh, yaitu suatu dimensi yang menggambarkan suatu kemampuan individu untuk mempengaruhi atau menerapkan taktik persuasi secara efektif sehingga orang lain terpengaruh olehnya. Ciri-ciri orang yang dapat mempengaruhi orang lain dintaranya adalah a) terampil dalam persuasi b) menyesuaikan presentasi untuk menarik hati pendengar c) menggunakan strategi yang rumit seperti memberi pengaruh tidak langsung untuk membangun konsesus dan dukungan d) memadukan dan menyelaraskan peristiwa-peristiwa dramatis agar menghasilkan sesuatu secara efektif.

2) Dimensi Komunikasi, yaitu suatu dimensi untuk mengukur kemampuan individu untuk berkomunikasi dengan cara mendengarkan secara terbuka dan mengirimkan pesan yang dapat meyakinkan kepada orang lain. Menurut Daniel Goleman (1999) juga ciri-ciri orang yang mempunyai keterampilan dalam berkomunikasi antara lain yaitu: a) efektif dalam memberi dan menerima, menyertakan isyarat emosi dalam pesanpesan mereka b) menghadapi masalah-masalah sulit tanpa ditunda c) mendengarkan dengan baik, berusaha saling memahami, dan bersedia berbagi informasi secara utuh d) menggalakkan komunikasi terbuka dan tetap bersedia menerima kabar buruk sebagai mana kabar baik.

 3) Dimensi Manajemen Konflik, yaitu dimensi yang menggambarkan suatu kemampuan individu dalam mengelola konflik dengan cara merundingkan dan mengidentifikasi potensi konflik untuk diselesaikan secara terbuka dengan prinsip solusi ‘win-win’. Pertikaian yang berakibat adanya konflik sangat menyusahkan jika tidak segera ditangani. Seseorang yang bisa menyelesaikan masalah dengan baik tanpa banyak yang dirugikan maka orang tersebut berarti mempunyaimaejemena konflik yan bagus. Dalam hal ini Goleman (1999: 289) menuturkan bahwa orang yang bisa memanajemen konflik mempunyai kecakapan-kecakapan diantaranya yaitu: a) menangani orang-orang sulit dan situasi tegang dengan diplomasi dan taktik, b) mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi menjadi konflik, menyelesaikan perbedaan pendapat secara terbuka dan membantu mendinginkan situasi, c) menganjurkan debat dan diskusi secara terbuka, d) mengantar ke solusi menang-menang.

4) Dimensi Kepemimpinan, yaitu suatu dimensi yang menunjukkan kemampuan individu dalam memimpin dengan cara mengilhami, memotivasi dan membimbing individu ke arah tujuan yang benar. Satu cara yang ditempuh oleh pemimpin adalah untuk membangun kredibilitas adalah dengan menangkap perasaan-perasaan secara kolektif yang tidak diucapkan itu lalu mengungkapkannya kepada mereka, atau bertindak sedemikian yang tanpa kata-kata pun menunjukan bahwa mereka dimengerti. Jika pemimpinya dapat mengarahkan kebaikan dan kesuksesan maka orang-orang yang dibawahnya juga ikut terkenal sukses. Sebaliknya jika pemimpinnya membuat kegaduahan, berbuat yang tidak baik, dan arahannya tidak bisa menguntungkan maka orang- orang yang dibawahnya juga juga terkenal jelek bahkan. Ciri-ciri orang yang mempunyai kecakapan dalam seni memimpin diantaranya yaitu: a) mengartikulasikan dan mengembangkan semangat untuk meraih visi serta misi bersama b) melangkah di depan untuk memimpin bila diperlukan tidak peduli sedang dimana c) memandu kinerja orang lain namun tetap memberikan tanggungjawab kepada mereka d) memimpin lewat teladan.

 5) Dimensi Katalisator Perubahan, yaitu suatu dimensi yang menggambarkan kemampuan individu berperan sebagai katalisator perubahan dengan cara menginisiasi dan mengelola perubahan untuk menyadarkan orang lain akan perlunya perubahan dan dihilangkannya hambatan. Mengawali suatu perubahan tidaklah mudah untuk bisa bergerak dan sukses dalam mencapai tujuan. Perubahan diperlukan ide yang cemerlang, keuletan, dan bekerja cepat. Dengan tiga faktor tersebut organisasi atau perusahaan bisa dengan mudah mengelola suatu perubahan. adapun orang-orang yang mempunyai kecakapan dalam katalisator perubahan yaitu mempunyai ciri-ciri diantaranya: a) menyadari perubahan dan dihilangkannya hambatan b) menantang status quo untuk menyatakan perlunya perubahan c) menjadi pelopor perubahan dan mengajak orang lain ke dalam perjuangan itu d) membuat model perubahan seperti yang diharapkan oleh orang lain. Kelima dimensi yang menjadi indikator keterampilan sosial tersebut di atas saling terkait dan merupakan satu kesatuan yang dapat memberikan gambaran kemampuan individu dalam mengekspresikan perasaannya baik verbal maupun non verbal sehingga mampu ditanggapi olehorang lain ketika interaksi sosial terjadi.

Implementasi Keterampilan Sosial di Dalam Masyarakat

Saat ini pada lingkup masyarakat timbul sikap hasil belajar atau hasil didik yang siap menang tetapi tidak siap kalah (Komite Rekonstruksi Pendidikan DIY, 2009). Di tengah masyarakat sudah sedikit sekali rasa tepo seliro, tenggang rasa, dan sikap saling peduli. Hal ini terlihat dari banyaknya berita baik di media elektronik maupun media cetak mengenai demonstrasi anarkis, perang antar warga, bahkan perang diantara para pemimpin. Para pemimpin negeri ini memperlihatkan sikap anarkis ketika sedang melaksanakan tugasnya. Pemimpin sudah bukan lagi sosok teladan dengan sikap maupun tutur kata yang dapat diteladani. Hal-hal tersebut memperlihatkan bahwa keterampilan sosial yang harusnya dimiliki oleh setiap indidivu sebagai anggota masyarakat tidak berkembang dengan baik.

Keberhasilan dalam interaksi sosial ditentukan oleh banyak faktor yang berhubungan dengan individu, respon terhadap orang lain dan lingkungan sosial. Hal ini sesuai dengan Spencer yang menyatakan bahwa ”…successful management of the social world requires a sophisticated repertoire of social skills and an interpersonal problem solving capacity”. Keberhasilan pengelolaan dunia sosial memerlukan sekumpulan keterampilan sosial dan sebuah kapasitas pemecahan masalah interpersonal.

Penting bagi individu untuk dapat menyesuaikan kuantitas dan kualitas respon non-verbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, postur, jarak sosial dan penggunaan isyarat, sesuai dengan tuntutan situasi sosial yang berbeda. Demikian pula, kualitas verbal seperti nada suara, volume, tingkat dan kejelasan berbicara secara signifikan mempengaruhi kesan kepada orang lain dan reaksi seseorang terhadap orang lain. Agus Suprijono seperti yang dikutip oleh Taman Firdaus (2010) menyebutkan beberapa komponen keterampilan sosial yaitu kecakapan berkomunikasi, kecakapan bekerja kooperatif dan kolaboratif, serta solidaritas.

Kesimpulan :

Keterampilan sosial dipandang sebagai keterampilan individu yang merupakan integrasi dari perilaku, kognitif, dan afektif untuk mampu hidup dalam lingkungan masyarakat yang beragam. Keterampilan sosial seperti mengelola hubungan sosial seperti, kepedulian sosial, bekerjasama, berkomunikasi, serta bertanggung jawab dapat dilatih dan diajarkan dimana saja termasuk didalam masyarakat sendiri. 



Daftar Pustaka :

Freeman, J. (2015). Developing social skills and relationship. Reclaiming Children

https://staf.ulm.ac.id/mellyagustina/2016/09/07/keterampilan-sosial/#:~:text=Keterampilan%2Dketerampilan%20sosial%20meliputi%3A%20(,kritik%2C%20dan%20(7)%20Bertindak  ( diakses pada 22 juni 2021 pukul 23:01 WIB) .

Umami, Inayatul. upaya guru ips dalam mengembangkan keterampilan sosial siswa di mts rogojampi banyuwangi tahun 2019. Journal Of Social Studies Vol 1 No 1 Juni, 2020.

Johnson, D.W., & Johnson, R.T. 1991. Learning Together and Alone: Cooperative, Competitive, and Individualistic. Third Eddition. Engelwood Cliffs, NJ: Prentice Hall.

https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.silabus.web.id/pengertian-keterampilan-sosial/amp/&ved=2ahUKEwjp5uSa66vxAhXbDnIKHc0fAKcQFjANegQICBAC&usg=AOvVaw3inrQXP0h1tETp6eeOsOSM&ampcf=1  (diakses pada 22 juni pukul 23:30 WIB)

Harisuci, Kohesivitas Keluarga dalam mengembangkan keterampilan interpersonal pada anak. Jurnal UMS

 

 

 

 

 

 

 



 

 

 

 

Sabtu, 17 April 2021

TUJUAN MEMPELAJARI KETERAMPILAAN SOSIAL DAN APLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI

 

Oleh :
Amanda Salsabila (03019192047)
Mahasiswi Tadris IPS2 Semester IV
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara




PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang :  

Keterampilan Sosial merupakan bagian penting dari kemampuan hidup manusia untuk berinteraksi dengan orang lain. Keterampilan sosial adalah suatu kemampuan secara cakap yang tampak dalam tindakan, mampu mencari, memilah dan mengelola informasi, mampu mempelajari hal-hal baru yang dapat memecahkan masalah sehari-hari, mampu memiliki keterampilan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan, memahami, menghargai, dan mampu bekerjasama dengan orang lain yang majemuk, mampu mentranformasikan kemampuan akademik dan beradaptasi dengan perkembangan masyarakat.

Melihat zaman sekarang banyak anak anak bahkan orang dewasa yang kurang cakap dalam bersosialisasi. Jadi, tak jarang banyak ketimpangan ketimpangan sosial yang terjadi. Menurut Suharsiwi (2015: 2) bahwa pembelajaran keterampilan sosial untuk anak kebanyakan secara umum diperoleh melalui apa yang dilihat dan ditiru dalam lingkungannya dan untuk anak berkebutuhan khusus diperlukan sebuah model pembelajaran yang dapat memvisualkannya. Keterampilan ini membiasakan sikap untuk mengembangkan dan menggunakan strategi mengatasi berbagai konflik yang terjadi di masyarakat serta belajar dari kenyataan dan situasi seperti kehidupan sebenarnya.

1.2 Rumusan Masalah :

A. Apa yang dimaksud dengan Keterampilan Sosial

B. Apa tujuan dipelajarinya Keterampilan Sosial

C. Bagaimana Aplikasinya Terhadap kehidupuan sehari-hari

1.3 Manfaat:

Mengetahui apa saja tujuan tujuan dari mempelajari keterampilan sosial dan bagaimana jika keterampilan sosial ini diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari.

 

PEMBAHASAN

A. Pengertian Keterampilan Sosial

Keterampilan sosial menurut Libet & Lewinsohn ( dalam Cartledge & Milburn 1993: 7 ) adalah “kemampuan kompleks untuk melakukan perilaku yang mendapat penguatan positif dan tidak melakukan perilaku yang mendapat penguatan yang negatife”

Bakat Ini digunakan untuk sikap mengembangkan dan menggunakan strategi Atasi berbagai konflik di masyarakat dan belajarlah darinya Realitas dan situasi dalam kehidupan nyata. Pengetahuan, Keterampilan untuk memahami dan mengalami hubungan sosial Manusia.

Sementara itu Combs & Slaby (dalam Cartledge & Milburn,1993 :7) menyatakan bahwa keterampilan sosial adalah “kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain pada kontek sosial dalam cara-cara spesifik yang secara sosial diterima atau bernilai dan dalam waktu yang sama memiliki keuntugan untuk pribadi dan orang lain”. Pendapat-pendapat tersebut memberikan pemahaman bahwa keterampilan sosial merupakan serangkaian kemampuan yang diiliki oleh siswa, sehingga individu tersebut dapat diterima oleh lingkungan sosial secara positif.

Kerampilan sosial bukanlah keterampilan yang dimiliki individu sejak lahir namun dari proses belajar, baik dari orang tua, teman dan lingkungan sekitar kita.

Jadi dapat disimpulkan bahwa keterampilan sosial adalah sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk berinteraksi, bersosialisi dengan orang lain agar dapat menjaga keharmonisan dalam berkomunikasi.

B. Tujuan Mempelajari Keterampilan Sosial

     Adapun beberapa tujuan yang dapat kita ketahui dalam mempelakari keterampilan sosial, sebagai berikut:

·  1. Melatih diri untuk cakap dalam bersosialisasi.

·        2. Lebih membuka pikiran individu untuk terus berusaha yang terbaik untuk berkomunikasi dengan orang lain.

·         3. Agar dapat menimbulkan rasa simpati dan empati terhadap orang lain.

·         4. Bagi siswa, agar  mampu mengaktifkan siswa dalam kegiatan berkelom-pok, keberanian bertanya dan mengemukakan pendapat, tertanamnya nilai-nilai kerja sama, terbentuknya jiwa demokratis, rasa percaya diri, belajar secara aktif, ber, memiliki tang-gung jawab pribadi maupun kelompok.

·      5. Saat kita mempelajari keterampilan sosial kita dapat lebih tau cara menghargai orang lain saat berbicara.

·             6. Tidak semena mena dengan orang lain.

·       7. Ditempat kita bekerja dapat melakukan kerja sama dengan rekan kerja.

    Jadi, pada intinya mempelajari keterampilan sosial dapat membuat kita sukses dalam bersosialisasi di lingkungan dan ketika dihadapkan situasi rumit di dalam sosial kita bisa mengatasinya.

C. Pengaplikasian Keterampilan Sosial dalam kehidupan sehari-hari

Pengaplikasian dimaksudkan adalah bagaimana jika keterampilan sosial ditempatkan dan diterapkan di kehidupan sehari-hari.

Didalam Kehidupan Keluarga:

Dapat diaplikasikan saat kumpul keluarga dan kita bisa lebih dapat berinteraksi dengan orang tua, sepupu dan saudara yang lain agar keharmonisan didalam keluarga tetap terjalin dengan baik.

Didalam Kehidupan Sekolah:

     Jika diaplikasikan di kehidupan sekolah dapat kita aplikasikan saat peserta didik dan guru diskusi dua arah jika guru dan peserta didik keterampilan sosialnya memumpuni maka keseimbangan dalam berkomunikasi didalam kelas pun sangat amat terjalin dengan baik.

     Dan disaat peserta didik bermain dengan temannya maka keterampilan sosial yang ia bawa dari lingkungannya dirumah akan muncul.

Didalam Kehidupan Pekerjaan

Apabila kita ingin dihormati oleh orang lain di tempat kerja, maka keterampilan sosial (interpersonal) mengajarkan kita untuk bersikap hormat juga kepada orang lain. Dengan kata lain, kita tidak akan pernah dihormati oleh orang lain, jika diri sendiri saja tidak mau menghormati orang lain.   

Dalam keterampilan sosial (interpersonal) ada beberapa kata yang harus kita sertakan dalam setiap ucapan penting ketika berinteraksi dengan orang lain. Contohnya adalah sebagai berikut:

·         Saat kita ingin meminta bantuan pada orang lain, maka jangan lupa ucapkan kata “tolong”. 

·         Saat kita secara sengaja atau tidak sengaja menyakiti hati orang lain atau menyusahkan mereka, maka jangan lupa ucapkan kata “maaf”. 

·         Ketika kita harus jalan melewati beberapa orang yang mungkin lebih tinggi jabatannya dari kita, maka kita perlu mengucapkan kata “permisi”, dan lain sebagainya.

KESIMPULAN

            Dari pembahasan materi diatas dapat disimpulkan bahwa mempelajari keterampilan sangatlah penting karena untuk pribadi kita sendiri bersosialisasi dengan orang lain itu sangatlah tidak mudah, jadi harus dilatih dari lingkungan yang paling kecil yaitu lingkungan keluarga. Dan mengaplikasikan keterampilan sosial di kehidupan sehari hari juga tidak mudah, pasti banyak tantangan yang dihadapi dan kita harus tetap berusaha untuk terus belajar dan memahami bahwa keterampilan sosial itu sangat penting.

SARAN

Saran saya sebagai penulis artikel ilmiah ini adalah, kepada para pembaca sekalian untuk terus belajar memahami kondisi sosial kita dan terus belajar untuk terampil dalam bersosial, karena jika kita sudah mempelajari keterampilan sosial dengan baik maka kemampuan bersosialisasi kita pun akan semakin baik.

 

REFERENSI

    Amtorunajah,Siasah Muhsinatun. Peningkatan Keterampilan Sosial Siswa Dalam Pembelajaran IPS Melalui Outdoor Activity di SMP Negeri 1 Kaligondang Kabupaten Purbalingga, Yogyakarta:vol2 no 1 Maret 2015

    Neli Yuliatiningsih, Meningkatkan Keterampilan Sosial Melalui Bermain Pembangunan Pada Anak Usia Dini Di Kelompok B Raudhatul Athfa Habibilah Pekik Nyaring Blok Iii Bengkulu Tengah, Bengkulu: vol 1 no 2, 2016

    Rachmah, Huriah.  Teori dan Praktik Berpikir Sosial dan Keterampilan Sosial. Bandung: Alfabeta. 2018.

    https://media.neliti.com/media/publications/240688-pengembangan-keterampilan-sosial-untuk-m-45e98825.pdf ( diakses pada 17 april 2021 pukul 20:00 PM)

    https://www.klinikpela9.com/keterampilan-sosial-social-skill/ ( diakses pada 17 april 2021 pukul 20:39 PM)

    https://www.studilmu.com/blogs/details/apa-itu-keterampilan-sosial-dalam-kerjasama-tim (diakses pada 17 april 2021 pukul 21:37 PM)



JURNAL KETERAMPILAN SOSIAL DALAM MASYARAKAT

  PENGEMBANGAN KETERAMPILAN SOSIAL DIDALAM LINGKUP MASYARAKAT Oleh : Amanda Salsabila ( 0309192047 ) Email : Amandasalsabila12...