Oleh
:
Amanda
Salsabila ( 0309192047 )
Email
: Amandasalsabila123user@gmail.com
Mahasiswi Jurusan Tadris IPS 2 Semester IV
Universitas Islam Negeri Sumatera
Utara Medan
Abstrak :
Manusia
adalah makhluk sosial dan tidak dapat tumbuh dan berkembang tanpa berinteraksi
dengan orang lain, oleh karena itu penting bagi individu untuk memiliki
keterampilan sosial. Keterampilan sosial adalah kemampuan individu untuk
menjalin hubungan dengan lingkungannya. Jika keterampilan sosial dapat
dikembangkan dengan tepat, dapat menjadi filter bagi individu untuk tidak
melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Oleh karena itu, sangat
penting untuk memberikan individu dengan kesempatan latihan awal untuk
mengembangkan keterampilan sosial mereka.
Kata Kunci : Keterampilan Sosial, Masyarakat
Abstract :
Humans are social creatures and
cannot grow and develop without interacting with other people, therefore it is
important for individuals to have social skills. Social skills are the ability
of individuals to establish relationships with their environment. If social
skills can be developed properly, it can be a filter for individuals not to do
things that can harm others. Therefore, it is very important to provide
individuals with early practice opportunities to develop their social skills.
Keywords: Social Skills, Society
Pendahuluan
Keterampilan sosial sebagai
keterampilan berkomunikasi dengan empati dan keterampilan bekerja sama. Dalam
berkomunikasi bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi di dalamnya ada keinginan
menimbulkan kesan baik untuk menumbuhkan keharmonisan maupun kesinambungan
hubungan, serta solusi terhadap suatu permasalahan. keterampilan sosial sebagai
keterampilan untuk melakukan interaksi, komunikasi dan partisipasi dalam
kelompok yang ada. Keterampilan sosial perlu didasari oleh kecerdasan personal
berupa kemampuan mengontrol diri, percaya diri, disiplin dan tanggungjawab.
Untuk selanjutnya kemampuan tersebut dipadukan dengan kemampuan berkomunikasi
secara jelas, lugas, meyakinkan, dan mampu membangkitkan inspirasi, sehingga
mampu mengatasi silang pendapat dan dapat menciptakan kerjasama
Greene ( dalam Freeman,
2015) menyatakan bahwa keterampilan sosial memmerlukan beberapa keahlian
berkomunikasi, mulai dari menginterpretasikan petunjuk, mengenali perilaku
tertentu yang turut mempengaruhi orang lain dan memahami suatu
perbuatan yang dilakukan oleh orang lain.
Keterampilan sosial adalah keterampilan untuk
berinteraksi, berkomunikasi dan berpartisipasi dalam kelompok. Tim Broad-Based Education menafsirkan keterampilan
sosial sebagai keterampilan berkomunikasi dengan empati dan keterampilan
bekerja sama. Dalam berkomunikasi tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi di
dalamnya ada keinginan yang menimbulkan kesan baik untuk menumbuhkan
keharmonisan maupun kesinambungan hubungan, serta solusi terhadap suatu
permasalahan. Jarolimek mengemukakan bahwa keterampilan sosial meliputi: (1) Living and working together;
taking turns; respecting the rights of other; being socially sensitive (2) Learning self-control and self-direction, dan (3) Sharing ideas
and experience with others. (Hidup dan bekerja sama,
bergiliran, respek dan sensitif terhadap hak orang lain, belajar mengontrol diri
dan tahu diri, berbagai ide dan pengalaman dengan orang lain) (Maryani, 2011:
18-19).
Maryani(2011:20)
mengungkapkan keterampilan sosial dapat dikelompokkan atas empat bagian, yaitu
: (1) Keterampilan dasar berinteraksi: berusaha untuk saling mengenal, ada
kontak mata, berbagi informasi atau material; (2) Keterampilan komunikasi:
mendengar dan berbicara secara bergiliran, melembutkan suara (tidak membentak),
meyakinkan orang untuk dapat mengemukakan pendapat, mendengarkan sampai orang
tersebut menyelesaikan pembicaraannya; (3) Keterampilan membangun tim/kelompok:
mengakomodasi pendapat orang, bekerjasama, saling menolong, saling
memperhatikan; (4) Keterampilan menyelesaikan masalah: mengendalikan diri,
empati, memikirkan orang lain, taat terhadap kesepakatan, mencari jalan keluar
dengan berdiskusi, respek terhadap pendapat yang berbeda.
Metode Penelitian
Penelitian ini termasuk
penelitian deskriptif kualitatif, yaitu jenis penelitian yang tujuannya untuk
menggambarkan fenomena yang bersifat alamiah atau rekayasa manusia (Sugiyono,
2010:6).
Metode penelitian yang
dipakai pada jurnal ini adalah Metode Grounded Theory Grounded
theory merupakan rancangan penelitian dari sosiologi yang di dalamnya
peneliti memperoleh teori umum dan abstrak dari suatu proses, aksi, atau
interaksi tertentu yang berasal dari pandangan-pandangn partisipan.
Rancangan ini
menggunakan berbagai tahap pengumpulan data dan penyaringan serta
antar-hubungan kategori-katgori informasi yang diperoleh (Charmaz, 2006; Corbin
dan Strauss, 2007 dalam dalam Creswell, 2016)
Karena pandemic COVID-19 ini yang tidak memungkinkan untuk melakukan penelitian jadi, penelitian ini dilaksanakan dirumah dengan melihat dan menganalisis bagaimana fenomena keterampilan sosial didalam masyarakat.
Pembahasan
Konsep
Keterampilaan Sosial
Keterampilan sosial berasal dari kata keterampilan
dan sosial. Kata keterampilan berasal dari kata “terampil” digunakan disini
karena didalamnya terkandung suatu proses belajar, dari tidak terampil menjadi
terampil. Kata sosial digunakan karena pelatihan ini bertujuan untuk
mengajarkan satu kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Keterampilan sosial
maksudnya adalah pelatihan yang bertujuan untuk mengajarkan kemampuan
berinteraksi dengan orang lain kepada individu-individu yang tidak terampil
menjadi terampil berinteraksi dengan orang-orang disekitarnya. Keterampilan sosial
“Social Skills” merupakan bagian penting dari kemampuan hidup manusia. Tanpa
memiliki keterampilan ini manusia tidak mulus dalam berinteraksi dengan orang
lain, sehingga hidupnya kurang harmonis. Social skill atau keterampilan sosial
memiliki penafsiran akan arti dan maknanya.
Dimensi
– Dimensi Keterampilan Sosial
Menurut Goleman (1999) untuk dapat meraih puncak
prestasi, keterampilan sosial atau social skills memiliki makna inti. Makna
intinya adalah adanya kemampuan atau kepintaran individu berupa seni untuk
menangani emosi orang lain dan menggugah respon orang lain, sehingaga terjadi
hubungan sosial yang ancar. Hubungan sosial yang lancar terjadi dapat ditinjau
dari dimensi-dimensi dari keterampilan sosial yang menjadi indikatornya yaitu :
1) Dimensi Pengaruh, yaitu suatu dimensi yang
menggambarkan suatu kemampuan individu untuk mempengaruhi atau menerapkan
taktik persuasi secara efektif sehingga orang lain terpengaruh olehnya.
Ciri-ciri orang yang dapat mempengaruhi orang lain dintaranya adalah a) terampil
dalam persuasi b) menyesuaikan presentasi untuk menarik hati pendengar c)
menggunakan strategi yang rumit seperti memberi pengaruh tidak langsung untuk
membangun konsesus dan dukungan d) memadukan dan menyelaraskan
peristiwa-peristiwa dramatis agar menghasilkan sesuatu secara efektif.
2) Dimensi Komunikasi, yaitu suatu dimensi untuk
mengukur kemampuan individu untuk berkomunikasi dengan cara mendengarkan secara
terbuka dan mengirimkan pesan yang dapat meyakinkan kepada orang lain. Menurut
Daniel Goleman (1999) juga ciri-ciri orang yang mempunyai keterampilan dalam
berkomunikasi antara lain yaitu: a) efektif dalam memberi dan menerima,
menyertakan isyarat emosi dalam pesanpesan mereka b) menghadapi masalah-masalah
sulit tanpa ditunda c) mendengarkan dengan baik, berusaha saling memahami, dan
bersedia berbagi informasi secara utuh d) menggalakkan komunikasi terbuka dan
tetap bersedia menerima kabar buruk sebagai mana kabar baik.
3) Dimensi
Manajemen Konflik, yaitu dimensi yang menggambarkan suatu kemampuan individu
dalam mengelola konflik dengan cara merundingkan dan mengidentifikasi potensi
konflik untuk diselesaikan secara terbuka dengan prinsip solusi ‘win-win’.
Pertikaian yang berakibat adanya konflik sangat menyusahkan jika tidak segera
ditangani. Seseorang yang bisa menyelesaikan masalah dengan baik tanpa banyak
yang dirugikan maka orang tersebut berarti mempunyaimaejemena konflik yan
bagus. Dalam hal ini Goleman (1999: 289) menuturkan bahwa orang yang bisa
memanajemen konflik mempunyai kecakapan-kecakapan diantaranya yaitu: a)
menangani orang-orang sulit dan situasi tegang dengan diplomasi dan taktik, b)
mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi menjadi konflik, menyelesaikan
perbedaan pendapat secara terbuka dan membantu mendinginkan situasi, c)
menganjurkan debat dan diskusi secara terbuka, d) mengantar ke solusi
menang-menang.
4) Dimensi Kepemimpinan, yaitu suatu dimensi yang
menunjukkan kemampuan individu dalam memimpin dengan cara mengilhami,
memotivasi dan membimbing individu ke arah tujuan yang benar. Satu cara yang
ditempuh oleh pemimpin adalah untuk membangun kredibilitas adalah dengan
menangkap perasaan-perasaan secara kolektif yang tidak diucapkan itu lalu
mengungkapkannya kepada mereka, atau bertindak sedemikian yang tanpa kata-kata
pun menunjukan bahwa mereka dimengerti. Jika pemimpinya dapat mengarahkan
kebaikan dan kesuksesan maka orang-orang yang dibawahnya juga ikut terkenal
sukses. Sebaliknya jika pemimpinnya membuat kegaduahan, berbuat yang tidak
baik, dan arahannya tidak bisa menguntungkan maka orang- orang yang dibawahnya
juga juga terkenal jelek bahkan. Ciri-ciri orang yang mempunyai kecakapan dalam
seni memimpin diantaranya yaitu: a) mengartikulasikan dan mengembangkan
semangat untuk meraih visi serta misi bersama b) melangkah di depan untuk
memimpin bila diperlukan tidak peduli sedang dimana c) memandu kinerja orang
lain namun tetap memberikan tanggungjawab kepada mereka d) memimpin lewat
teladan.
5) Dimensi
Katalisator Perubahan, yaitu suatu dimensi yang menggambarkan kemampuan
individu berperan sebagai katalisator perubahan dengan cara menginisiasi dan
mengelola perubahan untuk menyadarkan orang lain akan perlunya perubahan dan
dihilangkannya hambatan. Mengawali suatu perubahan tidaklah mudah untuk bisa
bergerak dan sukses dalam mencapai tujuan. Perubahan diperlukan ide yang
cemerlang, keuletan, dan bekerja cepat. Dengan tiga faktor tersebut organisasi
atau perusahaan bisa dengan mudah mengelola suatu perubahan. adapun orang-orang
yang mempunyai kecakapan dalam katalisator perubahan yaitu mempunyai ciri-ciri
diantaranya: a) menyadari perubahan dan dihilangkannya hambatan b) menantang
status quo untuk menyatakan perlunya perubahan c) menjadi pelopor perubahan dan
mengajak orang lain ke dalam perjuangan itu d) membuat model perubahan seperti
yang diharapkan oleh orang lain. Kelima dimensi yang menjadi indikator
keterampilan sosial tersebut di atas saling terkait dan merupakan satu kesatuan
yang dapat memberikan gambaran kemampuan individu dalam mengekspresikan
perasaannya baik verbal maupun non verbal sehingga mampu ditanggapi olehorang
lain ketika interaksi sosial terjadi.
Implementasi
Keterampilan Sosial di Dalam Masyarakat
Saat ini pada lingkup
masyarakat timbul sikap hasil belajar atau hasil didik yang siap menang tetapi
tidak siap kalah (Komite Rekonstruksi Pendidikan DIY, 2009). Di tengah
masyarakat sudah sedikit sekali rasa tepo seliro, tenggang rasa, dan sikap
saling peduli. Hal ini terlihat dari banyaknya berita baik di media elektronik
maupun media cetak mengenai demonstrasi anarkis, perang antar warga, bahkan
perang diantara para pemimpin. Para pemimpin negeri ini memperlihatkan sikap
anarkis ketika sedang melaksanakan tugasnya. Pemimpin sudah bukan lagi sosok
teladan dengan sikap maupun tutur kata yang dapat diteladani. Hal-hal tersebut
memperlihatkan bahwa keterampilan sosial yang harusnya dimiliki oleh setiap
indidivu sebagai anggota masyarakat tidak berkembang dengan baik.
Keberhasilan
dalam interaksi sosial ditentukan oleh banyak faktor yang berhubungan dengan
individu, respon terhadap orang lain dan lingkungan sosial. Hal ini sesuai
dengan Spencer yang menyatakan bahwa ”…successful
management of the social world requires a sophisticated repertoire of social
skills and an interpersonal problem solving capacity”. Keberhasilan pengelolaan dunia
sosial memerlukan sekumpulan keterampilan sosial dan sebuah kapasitas pemecahan
masalah interpersonal.
Penting bagi individu untuk dapat menyesuaikan kuantitas dan kualitas respon non-verbal seperti kontak mata, ekspresi wajah, postur, jarak sosial dan penggunaan isyarat, sesuai dengan tuntutan situasi sosial yang berbeda. Demikian pula, kualitas verbal seperti nada suara, volume, tingkat dan kejelasan berbicara secara signifikan mempengaruhi kesan kepada orang lain dan reaksi seseorang terhadap orang lain. Agus Suprijono seperti yang dikutip oleh Taman Firdaus (2010) menyebutkan beberapa komponen keterampilan sosial yaitu kecakapan berkomunikasi, kecakapan bekerja kooperatif dan kolaboratif, serta solidaritas.
Kesimpulan :
Keterampilan sosial dipandang sebagai keterampilan individu
yang merupakan integrasi dari perilaku, kognitif, dan afektif untuk mampu hidup
dalam lingkungan masyarakat yang beragam. Keterampilan sosial seperti mengelola
hubungan sosial seperti, kepedulian sosial, bekerjasama, berkomunikasi, serta
bertanggung jawab dapat dilatih dan diajarkan dimana saja termasuk didalam
masyarakat sendiri.
Daftar Pustaka :
Freeman,
J. (2015). Developing social skills and relationship. Reclaiming
Children
https://staf.ulm.ac.id/mellyagustina/2016/09/07/keterampilan-sosial/#:~:text=Keterampilan%2Dketerampilan%20sosial%20meliputi%3A%20(,kritik%2C%20dan%20(7)%20Bertindak ( diakses pada 22 juni 2021 pukul 23:01 WIB) .
Umami,
Inayatul. upaya guru ips dalam
mengembangkan keterampilan sosial siswa di mts rogojampi banyuwangi tahun 2019.
Journal Of Social Studies Vol 1 No 1 Juni, 2020.
Johnson,
D.W., & Johnson, R.T. 1991. Learning Together and Alone: Cooperative,
Competitive, and Individualistic. Third Eddition. Engelwood Cliffs, NJ:
Prentice Hall.
https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://www.silabus.web.id/pengertian-keterampilan-sosial/amp/&ved=2ahUKEwjp5uSa66vxAhXbDnIKHc0fAKcQFjANegQICBAC&usg=AOvVaw3inrQXP0h1tETp6eeOsOSM&cf=1
(diakses pada 22 juni pukul 23:30 WIB)
Harisuci, Kohesivitas
Keluarga dalam mengembangkan keterampilan interpersonal pada anak. Jurnal
UMS
